Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Qashidah Qod Kafani
QASHIDAH
AL IMAM QUTHBIL IRSYAD WAL BILAD
AL HABIB ABDULLAH BIN ALAWI AL HADDAD
قَدْ كَفَانِيْ عِلْـمُ رَبِّـيْ مِنْ سُؤَالِيْ وَاخْتِيَـارِيْ
فَدُعَائِيْ وَابْتِـهَـالِـيْ شَاهِدٌ لِيْ بِانْكِسَـارِيْ
Sungguh telah cukup bagiku, segala ilmu Allah Tuhanku, dari segala permintaan dan ikhtiarku, Maka segala do'a dan pujianku, semata-mata hanya menunjukkan kebutuhanku.
فَلِهَـذَا السِّـرِّ أَدْعُـوْ فِيْ يَسَارِيْ وَعَسَـارِيْ
أَنَاعَبْدٌ صَارَ فَـخْـرِيْ ضِمْنَ فَقْرِيْ وَاضْطِرَارِيْ
Dengan cara beginilah aku berdo'a, dalam kemudahan dan kesulitanku, Aku hanyalah budak yang hanya bisa bangga, padahal didalamnya penuh dengan kefaqiran dan keterpaksaan
قَدْ كَفَانِيْ عِلْـمُ رَبِّـيْ مِنْ سُؤَالِيْ وَاخْتِيَـارِيْ
Sungguh telah cukup bagiku, segala ilmu Allah Tuhanku, dari segala permintaan dan ikhtiarku,
ULAMA RABBANI
![]() | ||
| Asy Syeikh Abdul Qadir Al Jaylani (ilustrasi) |
PERBEDAAN ANTARA GURU DENGAN MURSYID
Mursyid
di dalam bahasa tasawuf adalah seorang guru yang bisa membawa muridnya kepada
Allah. Dikatakan bahwa tidak akan ada seorang yang mencapai kepada Allah dan
membuka pintunya Allah melainkan melalui seorang guru. Apabila ada seseorang
yang merasa dirinya tidak memerlukan seorang guru dalam menuju jalan Allah maka
Insya Allah jalannnya akan tersesat karena banyak godaan syaiton didalamnya.
Di
dalam tasawuf terdapat 2 macam guru, yakni guru formal dan guru non-formal.
Guru non-formal adalah kita belajar ilmu agama kepada beberapa orang dari ulama
yang ada. Sedangkan guru formal adalah guru yang hanya ada satu dimana kita
selalu mengikuti pengajiannya dimanapun adanya. Dimana ia memberikan ilmunya
disitulah kita duduk bersama dengannya. Seorang mursyid akan mengetahui segala
hal tentang muridnya sehingga ia bisa membimbing kita kepada jalan yang benar
menuju jalan Allah.
Dengan demikian muridnya selalu ada dibawah bimbingannya. Seorang mursyid akan memegang ruh dan jasab muridnya.selain itu, seorang guru mursyid akan menjadi seperti orangtua sendiri bagi muridnya.
Dengan demikian muridnya selalu ada dibawah bimbingannya. Seorang mursyid akan memegang ruh dan jasab muridnya.selain itu, seorang guru mursyid akan menjadi seperti orangtua sendiri bagi muridnya.
BAI'AT
Dilihat dari
segi bahasa, bai’at sama dengan
ijazah yang artinya menerima sesuatu dari seorang guru secara resmi dan teratur.
Sesuatu tersebut bisa berupa ilmu, amalan, kitab, pola hidup dan lain sebagainya.
Pemberian ini akan sampai kepada Rasulullah saw karena berupa amalan dari
beliau.
Ketika dunia berkembang, istilah bai’at menjadi lebih khusus digunakan oleh kelompol tarekat dalam tasawuf. Hal ini karena diluar kelompok tarekat istilah bai’at tidak dikenal. Apabila ingin masuk ke dalam kelompok tarekat tertentu atau ingin mengamalkan amalan dzikir yang mereka kerjakan dan ingin diaku sebagai jama’ahnya maka harus melalui bai’at terlebih dahulu, apabila belum dibai’at maka kita hanya dianggap sebagai tamu biasa. Lain halnya dengan ratib Al Attas, semua orang bebas mengamalkannya tanpa harus dibai’at terlebih dahulu. Saat dunia berkembang terus maka bai’at tersebut lebih khusus lagi bagi kelompok orang yang ingin menegakkan syari’at Islam dimana seseorang berjanji untuk menyerahkan jiwa raganya untuk agama Allah. Hal yang menyimpang dari istilah bai’at ini adala ketika ada pernyataan bahwa jika seseorang belum dibai’at maka Islamnya tidak benar dan belum sempurna atau tidak diakui. Inilah hal yang tidak diperbolehkan. Dikatakan bahwa orang menjadi muslim tidak memerlukan bai’at, apabila kita menjadi muslim cukup dengan bersyahadat, beriman dan beramal serta tidak ada istilah bai’at di dalamnya.
Kalimat bai’at pertama kali muncul berupa suatu kesepakatan, perjanjian antara orang-orang Madinah dengan Nabi Muhammad saw. Ketika musim haji ketika Nabi saw berada di Mekkah, orang-orang Madinah mengetahui bahwa ada Nabi saw di Madinah maka mereka mengirim beberapa utusan untuk bertemu dengan Nabi saw. mereka bertemu di suatu mesjid di Mina. Kemudian para utusan pun berbicara kepada Rasulullah saw dan menyatakan bahwa orang-orang Madinah sangat mengharapkan kehadiarannya di Madinah dan mereka berjanji untuk menyiapkan segala sesuatunya di Madinah demi menyambut kedatangan Nabi saw. intinya adalah saat itulah pertama kalinya muncul istilah kata bai’at di dalam Islam.
Ketika dunia berkembang, istilah bai’at menjadi lebih khusus digunakan oleh kelompol tarekat dalam tasawuf. Hal ini karena diluar kelompok tarekat istilah bai’at tidak dikenal. Apabila ingin masuk ke dalam kelompok tarekat tertentu atau ingin mengamalkan amalan dzikir yang mereka kerjakan dan ingin diaku sebagai jama’ahnya maka harus melalui bai’at terlebih dahulu, apabila belum dibai’at maka kita hanya dianggap sebagai tamu biasa. Lain halnya dengan ratib Al Attas, semua orang bebas mengamalkannya tanpa harus dibai’at terlebih dahulu. Saat dunia berkembang terus maka bai’at tersebut lebih khusus lagi bagi kelompok orang yang ingin menegakkan syari’at Islam dimana seseorang berjanji untuk menyerahkan jiwa raganya untuk agama Allah. Hal yang menyimpang dari istilah bai’at ini adala ketika ada pernyataan bahwa jika seseorang belum dibai’at maka Islamnya tidak benar dan belum sempurna atau tidak diakui. Inilah hal yang tidak diperbolehkan. Dikatakan bahwa orang menjadi muslim tidak memerlukan bai’at, apabila kita menjadi muslim cukup dengan bersyahadat, beriman dan beramal serta tidak ada istilah bai’at di dalamnya.
Kalimat bai’at pertama kali muncul berupa suatu kesepakatan, perjanjian antara orang-orang Madinah dengan Nabi Muhammad saw. Ketika musim haji ketika Nabi saw berada di Mekkah, orang-orang Madinah mengetahui bahwa ada Nabi saw di Madinah maka mereka mengirim beberapa utusan untuk bertemu dengan Nabi saw. mereka bertemu di suatu mesjid di Mina. Kemudian para utusan pun berbicara kepada Rasulullah saw dan menyatakan bahwa orang-orang Madinah sangat mengharapkan kehadiarannya di Madinah dan mereka berjanji untuk menyiapkan segala sesuatunya di Madinah demi menyambut kedatangan Nabi saw. intinya adalah saat itulah pertama kalinya muncul istilah kata bai’at di dalam Islam.
Langganan:
Komentar (Atom)

