“Wahai manusia! Sungguh telah datang
kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah.
Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya hari-hari yang
utama, malam-malamnya malam-malam yang paling utama, dan saat-saatnya
saat-saat yang paling utama.
Tampilkan postingan dengan label Nabawiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabawiyyah. Tampilkan semua postingan
PEDANG RASULULLAH SAW
Ini adalah pedang-pedang yang pernah dipakai oleh Nabi Muhammad SAW
semasa hidupnya untuk berdakwah, jumlah total pedang yang pernah
digunakan ada 9 buah.
Kalki Avatar; Sang Juru Selamat
Avatar adalah
bentuk bahasa Urdu yang berarti Nabi atau utusan (Rasul). Dalam kamus
“The Grolier International Dictionary” Avatar didefinisikan sebagai
berikut:
The Descent to earth of a deity in human or animal form. Used for the generic term for the incarnation of Vishnu. (halaman 90-91)
SIFAT FISIK DAN AKHLAQ RASULULLAH SAW
Bentuk tubuh Rasulullah SAW
Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a yang pernah hidup bersama Rasulullah SAW, berkata :
“Saya bertanya kepada paman saya, Hind bin Abi Halah -yang selalu
berbicara tentang Nabi yang mulia- untuk menceritakan kepada saya
berkenaan dengan Nabi, agar kecintaan saya bertambah. Ia berkata, ‘Nabi
Allah sangat berwibawa dan sangat dihormati. Wajahnya bersinar seperti
purnama. Ia lebih tinggi dari orang-orang pendek dan lebih pendek dari
orang-orang jangkung. Kepalanya agak besar dengan rambut yang ikal. Bila
rambutnya itu bisa disisir, ia pasti menyisir rambutnya. Kalau
rambutnya tumbuh panjang, ia tak akan membiarkannya melewati daun
telinga. Kulit wajahnya putih dengan dahi yang lebar. Kedua alisnya
panjang dan lebat, tapi tidak bertemu. Di antara kedua alisnya, ada pembuluh
darah melintang yang tampak jelas ketika beliau marah. Ada seberkas
cahaya yang menyapu tubuhnya dari bawah ke atas, seakan-akan mengangkat
tubuhnya. Jika orang berjumpa dengannya dan tidak melihat cahaya itu,
orang mungkin menduga ia mengangkat kepalanya karena sombong. Janggutnya
pendek dan tebal; pipinya halus dan lebar. Mulutnya lebar dengan
gigi-gigi yang jarang dan bersih. Di atas dadanya ada bulu yang sangat
halus; lehernya seperti batang perak murni yang indah. Tubuhnya serasi
(semua anggota tubuhnya sangat serasi dengan ukuran anggota tubuh yang
lain). Perut dan dadanya sejajar. Bahunya lebar, sendi-sendi anggota
badannya gempal. Dadanya bidang. Bagian tubuhnya yang tidak tertutup
pakaian bersinar terang. Segaris bulu yang tipis memanjang dari dada ke
pusarnya. Di luar itu, dada dan perutnya tidak berbulu sama sekali.
Lengan, bahu dan pundaknya berbulu. Lengannya panjang dan telapak
tangannya lebar. Tangan dan kakinya tebal dan kekar. Jari-jemarinya
panjang. Pertengahan telapak kakinya melengkung, tidak menyentuh tanah,
air tidak membasahinya. Ketika berjalan ia mengangkat kakinya dari tanah
dengan dada yang dibusungkan. Langkah-langkahnya lembut. Ia berjalan
cepat seakan-akan menuruni bukit. Bila berhadapan dengan seseorang, Ia
hadapkan seluruh tubuhnya, bukan hanya kepalanya. Matanya selalu
merunduk. Pandangannya ke arah bumi lebih lama daripada pandangannya ke
langit. Sesekali ia memandang dengan pandangan sekilas. Ia selalu
menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepada orang yang
ditemuinya di jalan.”
KEUTAMAAN BERSHALAWAT KEPADA RASULULLAH SAW
Sufyan Ats Tsauri bercerita, ” Aku melihat seorang lelaki, ia tidak
mengangkat atau meletakkan kakinya kecuali bersholawat kepada Nabi
Muhammad SAW. Aku bertanya kepadanya, Hai pemuda, mengapa engkau
tinggalkan tasbih dan tahlil dan hanya bersholawat kepada Nabi Muhammad
SAW ? ”
” Aku adalah Sufyan Ats Tsauri. ”
” Kalau kamu bukan orang yang asing di zamanmu, aku tak akan membuat rahasiaku, ucap sang pemuda. ia lalu mulai bercerita.
” Suatu hari aku bersama ayahku pergi haji ke baitullah al haram. Dalam perjalanan ayahku sakit dan meninggal dunia. Kulihat muka ayahku berubah hitam. Lalu kututup wajahnya dengan kain. Ketika menunggu mayatnya, aku sangat mengantuk sehingga aku tertidur. Dalam tidurku aku melihat seorang yang sangat tampan. Belum pernah aku melihat pria setampan dia, berpakaian sebersih pakaiannya. dan berbau seharum tubuhnya. Ia berjalan mendekati ayahku, menyingkap kain yang menutupi wajahnya, kemudian mengusapkan tangannya kewajah ayahku. Wajah yang semula hitam segera berubah menjadi putih. Setelah itu ia berbalik hendak pergi. Aku lali memegang bajunya dan bertanya, ” Siapakah kamu sebenarnya, semoga Allah merahmatimu ? ” Kedatanganmu sungguh merupakan karunia Allah bagiku.
Tidakkah kamu mengenal aku. Aku adalah Muhammad bin Abdillah,
kepadaku Quran telah diturunkan. Sesungguhnya ayahmu menyia – nyiakan
dirinya. Namun, ia banyak bersholawat kepadaku. Ketika mengalami apa
yang sedang ia alami, ia meminta tolong kepadaku, sedangkan aku adalah
penolong bagi orang – orang yang banyak bersholawat kepadaku.
Ketika bangun dari tidur, kulihat wajah ayahku telah berubah putih.
Barang siapa ingin dekat dengan Al Musthafa dan bercakap – cakap
dengannya hendaknya ia menyempurnakan asasnya, yaitu selalu mengikuti
Rasulullah SAW dalam perbuatan, ucapan dan segala hal. Para salaf kita
tidak pernah meninggalkan sunnah dalam setiap langkah mereka.
Setiap orang yang ingin dekat dengan Nabi Muhammad SAW hendaknya
melaksanakan perintah beliau walaupun hukumnya sunah, dan menjauhi
segala larangan beliau walaupun hukumnya makruh. Karena semua amal
umatnya akan ditunjukkan kepada beliau. Jika umatnya beramal saleh,
beliau akan merasa senang, mencintai, dan menyebut – nyebut namanya
sehingga Allah melimpahkan rahmatNya.
Sholawat Kepada Nabi Muhammad Saw menjanjikan pahala yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : ” Barang siapa bersholawat kepadaku sekali, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali. ” ( HR Muslim, Turmudzi, Abu Dawud,Nasai dan Ahmad )
Barang siapa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW sewaktu duduk, ia
akan di ampuni sebelum berdiri. Dan barang siapa bersholawat kepada Nabi
Muhammad SAW sewaktu tidur, ia akan di ampuni sebelum bangun.
Diriwayatkan bahwa Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq meminta ibunya
untuk memeluk agama islam, namun ia menolak, kemudian Sayidina Abu Bakar
pergi kerumah Rasulullah SAw mengabarkan hal ini. Ketika hendak pulang,
ia memohon doa Rasulullah SAW agar ibunya masuk islam. Rasulullah SAW
mengabulkan permintaannya. Sesampainya di rumah, Sayidina Abu Bakar
melihat ibunya sedang tidur sambil bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Setelah bangun dari tidurnya ia segera masuk Islam.
Kejadian ini semua adalah berkat sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sholawat merupakan guru bagi mereka yang tak memiliki guru, karenanya sholawat tidak butuh guru maupun hudhur tetapi akan lebih sempurna jika diucapkan dengan hati yang hudhur. Riya’ tidak dapat menghapuskan pahala sholawat.
Al Habib Ahmad bin Ali Assegaff
CINTA RASULULLAH SAW TERHADAP UMATNYA
Islam sampai kepada kita saat ini tidak lain
berkat jasa Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai sosok penyampai
risalah Allah yang benar dan di ridhai. Dan nanti di padang mahsyar,
tiap umat Islam pasti akan meminta syafa’at dari beliau dan menginginkan
berada di barisan beliau. Namun, pengakuan tidaklah cukup sekedar
pengakuan. Pasti yang mengaku umat beliau akan berusaha mengikuti jejak
beliau dengan jalan mengikuti sunnah-sunnah beliau dan senantiasa
membasahi bibir ini dengan mendoakan beliau dengan cara memperbanyak
shalawat kepada Rasulullah SAW.
MANFAAT SIWAK
Sejarah Penggunaan Siwak (Salvadora persica)
Penggunaan alat-alat kebersihan mulut telah dimulai semenjak berabad-abad lalu. Manusia terdahulu menggunakan alat-alat kebersihan yang bermacam-macam seiring dengan perkembangan sosial, teknologi dan budaya. Beraneka ragam peralatan sederhana dipergunakan untuk membersihkan mulut mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, batang kayu, ranting pohon, kain, bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara peralatan tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan gigi adalah kayu siwak atau chewing stick. Kayu ini walaupun tradisional, merupakan langkah pertama transisi/peralihan kepada sikat gigi modern dan merupakan alat pembersih mulut terbaik hingga saat ini.
Asma An Nabi SAW
Dalam kitab Dalail Khairot, terdapat nama-nama Rasulullah SAW yang diantaranya sebagai berikut :
- Muhammad : Yang Sangat Terpuji (surah 3:144, 33:40, 47:2, 48:29)
- Ahmad : Yang paling agung puja dan pujinya kepada Allah (surah 61:6)
- Hamid : Yang Memuji
Penggunanaan "Sayyidina" kepada Rasulullah SAW
Lembaga fatwa resmi Mesir dalam fatwa no. 292, membahas mengenai hukum
mengucap “Sayyiduna” kepada Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam. Fatwa
ini dikeluarkan untuk merespon permohonan fatwa bernomor 2724, yang
diajukan ke Dar Alifta, mengenai masalah tersebut.
Dalam fatwa itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wassalam merupakan “Sayyid” (tuan) bagi seluruh makhluk adalah ijma’ umat Islam. Bahkan beliau sendiri telah bersabda,”Aku adalah sayyid (tuan) anak Adam”, dan diriwayat lain disebutkan,”Aku sayyid (tuan) manusia”, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Sedangkan Allah sendiri juga memerintahkan manusia untuk memuliakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang artinya, ”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi dan pemberi kabar gembira serta pemberi peringatan agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan menolong-Nya, mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya di pagi hari dan petang.” (Al Fath: 8-9)
Sebagian ulama menilai bahwa perintah mengagungkan, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Imam Qatadah dan As Suddi, mengagungkan Rasulullah termasuk mensayyidkan beliau.
Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”
Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, ”Kami melalui tempat air mengalir, maka aku turun dan mandi dengannya, setelah itu aku keluar dalam keadaan demam. Maka hal itu dikabarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Wasallam. Maka beliau bersabda, ”Perintahkan Aba Tsabit untuk meminta perlindungan.” Saya mengatakan,”Wahai Sayyidku (tuanku) apakah ruqyah berfungsi?” Beliau bersabda,”Tidak ada ruqyah kecuali karena nafs (ain), demam atau bisa.” (Al Hakim, beliau menyatakan isnadnya shahih)
Shalawat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar gunakan “Sayyid”
Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga menyebut “Sayyid” untuk Rasulullah dalam shalawat beliau berdua. Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan,”Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka baguskanlah shalawat untuk beliau, sesungguhnya kalian tidak tahu bahwa shalawat itu ditunjukkan kepada beliau.
Maka, mereka mengatakan kapada Abdullah bin Mas’ud,’Ajarilah kami.’ Ibnu Mas;ud menjawab,’Ucapkanlah, Ya Allah jadikanlah shalat-Mu dan rahmat-Mu dan berkah-Mu untuk Sayyid Al Mursalin (tuan para rasul), Imam Al Muttaqin (imam orang-orang yang bertaqwa), Khatam An Nabiyyin (penutup para nabi), Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu, Imam Al Khair (imam kebaikan), Qaid Al Khair (pemimpin kebaikan) dan Rasul Ar Rahmah (utusan pembawa rahmat).’” (Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Hafidz Al Mundziri)
Atsar serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Musnad, dengan sanad hasan pula.
Walhasil, menyebut Rasulullah dengan gelar “Sayyid” adalah perkara yang disyariatkan.*
Dalam fatwa itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wassalam merupakan “Sayyid” (tuan) bagi seluruh makhluk adalah ijma’ umat Islam. Bahkan beliau sendiri telah bersabda,”Aku adalah sayyid (tuan) anak Adam”, dan diriwayat lain disebutkan,”Aku sayyid (tuan) manusia”, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Sedangkan Allah sendiri juga memerintahkan manusia untuk memuliakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang artinya, ”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi dan pemberi kabar gembira serta pemberi peringatan agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan menolong-Nya, mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya di pagi hari dan petang.” (Al Fath: 8-9)
Sebagian ulama menilai bahwa perintah mengagungkan, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Imam Qatadah dan As Suddi, mengagungkan Rasulullah termasuk mensayyidkan beliau.
Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”
Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, ”Kami melalui tempat air mengalir, maka aku turun dan mandi dengannya, setelah itu aku keluar dalam keadaan demam. Maka hal itu dikabarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Wasallam. Maka beliau bersabda, ”Perintahkan Aba Tsabit untuk meminta perlindungan.” Saya mengatakan,”Wahai Sayyidku (tuanku) apakah ruqyah berfungsi?” Beliau bersabda,”Tidak ada ruqyah kecuali karena nafs (ain), demam atau bisa.” (Al Hakim, beliau menyatakan isnadnya shahih)
Shalawat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar gunakan “Sayyid”
Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga menyebut “Sayyid” untuk Rasulullah dalam shalawat beliau berdua. Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan,”Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka baguskanlah shalawat untuk beliau, sesungguhnya kalian tidak tahu bahwa shalawat itu ditunjukkan kepada beliau.
Maka, mereka mengatakan kapada Abdullah bin Mas’ud,’Ajarilah kami.’ Ibnu Mas;ud menjawab,’Ucapkanlah, Ya Allah jadikanlah shalat-Mu dan rahmat-Mu dan berkah-Mu untuk Sayyid Al Mursalin (tuan para rasul), Imam Al Muttaqin (imam orang-orang yang bertaqwa), Khatam An Nabiyyin (penutup para nabi), Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu, Imam Al Khair (imam kebaikan), Qaid Al Khair (pemimpin kebaikan) dan Rasul Ar Rahmah (utusan pembawa rahmat).’” (Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Hafidz Al Mundziri)
Atsar serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Musnad, dengan sanad hasan pula.
Walhasil, menyebut Rasulullah dengan gelar “Sayyid” adalah perkara yang disyariatkan.*
Mentauladani Akhlaq Rasulullah SAW
Sahabatku, kita punya cara untuk mengenang orang paling mulia di
dunia, Nabi Muhammad SAW.. Catatan ringkas ini semoga menjadi renungan
buat kita. Berteladan kepada Nabi SAW. Dia sejatinya uswah, pasti tidak
akan membuat kita kecewa!
Logika Cinta Mengharuskan Aku Merayakan Hari Kelahiran Rasulullah SAW
Sebagaimana kita ketahui bahwa keimanan kepada Allah SWT. dan
rasul-Nya SAW. tidaklah sempurna kecuali setelah terpenuhnya dua rukun
yang harus ada: Keyakinan, yang bermarkas di akal, dan Kecintaan yang memenuhi hati.
Keimanan dengan akal yang kosong dari kecintaan tidak dianggap
sebagai keimanan di mizan Allah SWT. di hari pembalasan kelak, dan
keimanan yang hanya diwakili oleh cinta tanpa ditopang oleh keyakinan
akal tidak dianggap sebagai keimanan di neraca Allah SWT.
Bahsan kita kali ini berkisar pada rukun kedua, yaitu cintaatau kecintaan, lebih spesifiknya lagi, kecintaan kepada Rasulullah, yang merupakan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla.
Tidaklah seseorang dianggap sebagai mukmin hanya dengan keyakinan akal (‘aqli/intelektual) –nya, yakni hanya yakin bahwa Muhammad adalah Rasul yang hak, sampai kecintaan kepadanya SAW. bersemayam di hatinya.
Dialog antara Rasulullah SAW dengan Iblis
Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata :
"Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari
golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada yang memanggil dari
luar :" Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk,
karena kalianmembutuhkanku ". Rasulullah SAW bertanya kepada para
sahabat :" Apakahkalian tahu siapa yang menyeru itu ?". Para sahabat
menjawab , " Tentu Allah dan Rasul- Nya lebih mengetahui ". Rasulullah
berkata : " Dia adalah Iblis yangterkutuk - semoga Allah senantiasa
melaknatnya". Umar bin Khattab r.a. berkata :" Ya, Rasulullah, apakah
engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?". Nabi SAW berkata pelan :"
Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk
mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan
[harikiyamat]?.Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang
diperintahkan Allah SWT. Pahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan
apa yang akan dia sampaikan kepada kalian ! ".Ibnu Abbas berkata : "
Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah- tengah kami.
Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata.
Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya
seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya [masyquqatani] memanjang
[terbelahke-atas, tidak kesamping], kepalanya seperti kepala gajah yang
sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua
bibirnya seperti bibir macan / kerbau [tsur].
Sholawat Nabi Musa AS
Artinya :
Ya Allah limpahkanlah shalawdtMu atas pemimpin kami Muhammad, penutup kenabian para Nabi, tambang bagi segala rahasia, sumber bagi segala cahaya, keindahan bagi kedua atom, dan kemuliaan bagi kedua kediaman, pemimpin kedua jenis bangsa yaitu jin dan manusia, yang telah dikhususkan baginya dengan suatu kedudukan yang tertinggi.
Ini adalah shalawat yang dimintakan oleh Nabi Allah Musa AS. Mengenai shalawat ini Syaikh Abdullah Al Harusyi dalam kitabnya Kunuzul Asrar pada bagian penjelasannya mengenai kelebihan fadhilah shalawat ini, disitu Beliau mengatakan sebagai berikut:
"Bahwa Nabi Allah Musa AS ketika diperlihatkan Allah SWT kepadanya apa yang telah disediakanNya dari segala bentuk kelebihan dan keistimewaan untuk diberikanNya kepada ummat nabiNya Sayyidina Muhammad SAW, maka meminta kepada Allah agar dirinya dijadikanNya salah satu dari mereka (salah satu dan ummat Muhammad SAW). Menanggapi permintaan Beliau itu, maka Allah SWT menyuruhnya agar beliau memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Begitu dia menerima petunjuk tersebut, maka dia pun langsung memberikan shalawat kepadaNabi Muhammad SAW, dengan ungkapan shalawat di atas.
Tidaklah diragukan lagi bahwa shalawat ini termasuk salah satu dari sekian banyak shalawat yang lengkap dan begitulah bentuk susunan kalimat shalawat yang diucapkan Beliau tersebut.
Tambahan Keterangan
Dia kami beri nama tersebut karena diantara fadhilah memberikan shalawat kepada Nabi SAW dengan kalimat shalawat dari Nabi Musa AS tersebut adalah :
Barang siapa senantiasa berdo'a dengan kalimat Shalawat beliau ini dan dirutinkannya dalam setiap sehari semalam sebanyak 1000 X dengan niat khusus untuk mengagungkan dan memuliakan Baginda Nabi Muhammad SAW serta kedudukan Beliau disisi Allah SWT maka jika hal itu dilakukannya maka dia akan mendapat kekayaan dan kejayaan serta kemuliaan di dunia dan martabat yang tinggi di akhirat.
Dinukil dari Kitab Sa’adatud-darain Fis Shalati ’ala Sayyidil Kaunain – Syaikh Yusuf bin Ismail An Nabhani , oleh Al Habib Muhammad bin Ali Al-Syihab
Ya Allah limpahkanlah shalawdtMu atas pemimpin kami Muhammad, penutup kenabian para Nabi, tambang bagi segala rahasia, sumber bagi segala cahaya, keindahan bagi kedua atom, dan kemuliaan bagi kedua kediaman, pemimpin kedua jenis bangsa yaitu jin dan manusia, yang telah dikhususkan baginya dengan suatu kedudukan yang tertinggi.
Ini adalah shalawat yang dimintakan oleh Nabi Allah Musa AS. Mengenai shalawat ini Syaikh Abdullah Al Harusyi dalam kitabnya Kunuzul Asrar pada bagian penjelasannya mengenai kelebihan fadhilah shalawat ini, disitu Beliau mengatakan sebagai berikut:
"Bahwa Nabi Allah Musa AS ketika diperlihatkan Allah SWT kepadanya apa yang telah disediakanNya dari segala bentuk kelebihan dan keistimewaan untuk diberikanNya kepada ummat nabiNya Sayyidina Muhammad SAW, maka meminta kepada Allah agar dirinya dijadikanNya salah satu dari mereka (salah satu dan ummat Muhammad SAW). Menanggapi permintaan Beliau itu, maka Allah SWT menyuruhnya agar beliau memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Begitu dia menerima petunjuk tersebut, maka dia pun langsung memberikan shalawat kepadaNabi Muhammad SAW, dengan ungkapan shalawat di atas.
Tidaklah diragukan lagi bahwa shalawat ini termasuk salah satu dari sekian banyak shalawat yang lengkap dan begitulah bentuk susunan kalimat shalawat yang diucapkan Beliau tersebut.
Tambahan Keterangan
Dia kami beri nama tersebut karena diantara fadhilah memberikan shalawat kepada Nabi SAW dengan kalimat shalawat dari Nabi Musa AS tersebut adalah :
Barang siapa senantiasa berdo'a dengan kalimat Shalawat beliau ini dan dirutinkannya dalam setiap sehari semalam sebanyak 1000 X dengan niat khusus untuk mengagungkan dan memuliakan Baginda Nabi Muhammad SAW serta kedudukan Beliau disisi Allah SWT maka jika hal itu dilakukannya maka dia akan mendapat kekayaan dan kejayaan serta kemuliaan di dunia dan martabat yang tinggi di akhirat.
Dinukil dari Kitab Sa’adatud-darain Fis Shalati ’ala Sayyidil Kaunain – Syaikh Yusuf bin Ismail An Nabhani , oleh Al Habib Muhammad bin Ali Al-Syihab
ITTIBA’ DENGAN RASULULLAH SAW
Oleh : Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri
Ketahuilah sesungguhnya awal langkah yang kita ayunkan untuk menuju kepada Allah SWT adalah memperbaiki taubat dan selalu kembali kepada Allah SWT. Inti dari taubat adalah penyesalan. Apabila seseorang sungguh-sungguh menyesal, barulah ia bertaubat kepada Allah SWT. Sedangkan jika tak sempurna penyesalan tersebut, maka taubatnya pun tak sempurna.
Barang siapa yang tak bertaubat kepada Allah SWT, maka ia pun tak akan mendapatkan kedudukan di sisiNya. Karena taubat adalah pintu yang sangat agung untuk mendapatkan mahabbah (rasa cinta) dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman; "Sesungguhnya Allah mencintai hambaNya yang senantiasa bertaubat."
Wahai saudaraku, Ketahuilah bahwa asas menuju kepada Allah SWT adalah melalui ilmu. Dengan ilmulah kita mempunyai kunci dalam mengikuti jejak Rasulullah (ittiba’). Yaitu ilmu yang kita ambil dengan niat untuk diamalkan dan diajarkan.
Makna ittiba’ adalah bagaimana kita selalu mengikuti jejak Rasulullah SAW. Sir / rahasia dalam hal ini adalah bagaimana seseorang meninggalkan keinginan hawa nafsunya untuk sibuk melakukan apa-apa yang diinginkan Allah SWT.
Langganan:
Komentar (Atom)




